Jeruk Lokal versus Jeruk Cina

Belakangan ini, banyak produk China yang membanjiri pasar Indonesia. Nampaknya bukan hanya dari sektor industri saja. Fenomena ini terus berjalan sampai merambah ke sektor pertanian. Salah satu komoditas pertanian China yang membanjiri pasar di Indonesia adalah Jeruk China.

Jeruk dari china merupakan komoditas yang banyak disukai pasar, khususnya di Indonesia. Jeruk ini banyak disukai karena rasanya manis, harganya yang murah dan ketersediaan pasokannya mencukupi. Tidak heran, jika jeruk dari China banyak dijual di pasar Indonesia, karena sesuai dengan hukum penawaran, bahwa semakin banyak permintaan terhadap suatu barang, semakin banyak pula barang tersebut ditawarkan di pasaran.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor jeruk mandarin pada Januari-Maret 2011 senilai 85.352.866 dollar AS. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, nilai impor jeruk mandarin masih sebesar 68.103.952 dollar AS. Itu berarti impor jeruk mandarin triwulan I-2011 melonjak sekitar 25,32 persen dibandingkan dengan triwulan I-2010.

Kemelimpahan jeruk impor dari Cina, dapat dikarenakan beberapa hal. Yang pertama tentunya Cina dipercaya merupakan tempat jeruk pertama kali tumbuh (Dewi 2009). Iklim yang cocok juga membuat banyak perkebunan jeruk didirikan di sana. Alasan kedua adalah, masuknya jeruk dari Cina tersebut sangat berkaitan dengan masuknya Cina sebagai anggota AFTA (ASEAN-China Free Trade Area) yang berlaku mulai tanggal 1 Januari 2010 (Sukirno 2011). ACFTA merupakan pengembangan dari AFTA (ASEAN Free Trade Area) yang sebenarnya hanya beranggotakan negara-negara ASEAN. ASEAN Free Trade Area (AFTA) adalah kawasan perdagangan bebas ASEAN dimana tidak ada hambatan tarif (bea masuk 0-5%) maupun hambatan non tarif bagi negara-negara anggota ASEAN. Tujuan AFTA adalah meningkatkan daya saing ekonomi negara-negara ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi pasar dunia, untuk menarik investasi dan meningkatkan perdagangan antar anggota ASEAN (Departemen Perdagangan 2011).

Banyaknya produksi jeruk dari Cina serta tidak ada bea masuk atau bea masuk yang sangat kecil, membuat banyak importir lebih memilih produk Cina yang memang harganya sudah murah dari asalnya karena jumlahnya yang sangat melimpah.  Selain murah, penampilan jeruk asal Cina juga menarik, kuning cerah yang rata , mulus, dan licin. Berbeda dengan jeruk lokal yang warnanya belang hijau, kuning bahkan ada yang kecoklatan. Sering kita lihat pula jeruk Cina dibungkus plastik satu demi satu atau ditempeli stiker dan diberi merek. Sangat menarik, berbeda sekali dengan jeruk lokal yang hanya dimasukkan ke dalam kardus, bahkan peti dari kayu. Namun jangan hanya melihat dari penampilan saja, yang dari luarnya bagus belum tentu memiliki kualitas rasa dan gizi yang baik.

Dari pengalaman pribadi mengkonsumsi jeruk Cina, kebanyakan jeruk tersebut mempunyai rasa yang hambar, memang ada yang manis dan asam, tapi sebagian besar tidak ada rasanya dan tidak berair. Sedangkan jeruk Medan, walaupun asam dan kurang begitu manis, kandungan airnya masih banyak. Kandungan air juga mempengaruhi daya simpan buah, semakin sedikit kandungan air yang ada di dalam buah tersebut semakin lama pula daya simpannya. Mungkin itu pula yang menjadi pertimbangan importir untuk lebih mengimport jeruk dari Cina. Ada kabar pula, kandungan air yang sedikit tersebut karena jeruk tersebut disuntik. Dinkes Cilegon menemukan kandungan Formalin yang bisa menimbulkan kanker pada Jeruk Impor asal Cina. Tak heran jika Jeruk Cina yang telah menempuh perjalanan laut selama 2 minggu ke Indonesia, masih belum busuk meski dipajang selama 3 minggu alias tidak busuk meski sudah 5 minggu lebih. Sementara Jeruk Lokal seminggu sudah busuk. Itu karena Jeruk Cina sudah memakai bahan pengawet kimia seperti Formalin sehingga jadi tahan lama. Sementara Jeruk Lokal lebih alami (Nizami 2011).

Dalam hal ini jeruk Indonesia bias tersaingi dengan jeruk dari cina,di karenakan jeruk Indonesia kurang menarik dan dilihat dari segi warnanya atau dari luarnya jeruk Indonesia kurang menarik. Dalam pembukaan Citrus Spectacular Day yang diselenggarakan di Balitjestro, Batu pada Kamis 5 Agustus 2010, Kepala Badan Litbang Pertanian Sumardjo Gatot Irianto optimis bahwa Jeruk Indonesia mampu bersaing dengan jeruk impor. “Kualitas jeruk kita lebih baik, lebih segar, lebih manis, namun jumlahnya masih sedikit. Masih sulit untuk mencari jeruk lokal di pasaran. Jadi dalam persaingan pasar sekarang ini tidak seimbang, ibaratnya satu lawan sejuta, walau yang satu dari kita itu bagus, pasti akan kalah karena jumlahnya yang sedikit dan sulit dicari.”

Sekarang ini teknologi perjerukan di Indonesia sudah maju. Jeruk keprok dapat diproduksi jutaan batang dalam waktu singkat dengan somatic embryogenesis (SE), bukan dengan penyambungan atau mata tempel yang memakan waktu, biaya, dan tenaga.

Varietas jeruk Indonesia sangat beragam, mulai dari Manis Waturejo, Manis Punten, Manis Pacitan, Siam Pontianak, Siam Berastagi, Siam Mamuju, Siam Banjar, Siam Kintamani, Keprok Riau, Keprok Kedu, Keprok Selayar, Keprok Madura, Keprok Konde Purworejo, Keprok Batu 55, Keprok Satsuma, Keprok Ponkan, Keprok Tejakula, Keprok Freemont, Keprok Pulung, Keprok Cina Licin, Keprok Madu Terigas, Keprok Soe, Keprok Cina Konde, Keprok Mandarin Cimahi, dan lain-lain termasuk jenis jeruk Pamelo yang selama ini kita tahunya Jeruk Bali yang sebetulnya hanya satu dari sekian banyak jenis Jeruk Pamelo.

Dalam kesempatan ini pula, dalam pembukaan acara Citrus Spectacular Day di Balitjestro Kepala Badan Litbang Pertanian Gatot Irianto menerima penghargaan MURI untuk rekor “Makan Jeruk dengan Peserta Terbanyak”, 3000 orang dan rekor MURI yang ke-2 yang diserahkan pada hari itu juga untuk “Koleksi Plasmanutfah Jeruk Terbanyak, 211 aksesi yang diberikan kepada Sekretaris Badan Pertanian, Haryono. [admin] Mulai 2010 indonesia resmi melaksanakan Asean Cina- Free Trade Area (AC-FTA). Perjanjian pasar bebas ini memiliki konsekuensi tarif bea masuk 0% untuk produk Cina termasuk produk pertanian di dalamnya. Semenjak itulah Indonesia kebanjiran produk pertanian dari Cina, yang paling kentara adalah buah jeruk dan bawang putih. Dua komoditas yang menghidupi lebih dari 100.000 rumah tangga petani Indonesia ini terancam mati.

Murahnya Jeruk dan Bawang putih dari Cina membuat petani di Indonesia enggan menanam.  Mereka lebih memilih berpindah ke jenis tanaman yang lain seperti jagung, umbi-umbian atau sayuran.  Situasi ini seharusnya mendapat perhatian yang lebih serius dari pemerintah, sebab jika dibiarkan, maka jeruk lokal seperti Jeruk Soe di NTT, Jeruk Medan, Jeruk Bali, Bawang putih di Jawa Tengah, Medan, Jawa barat dan lainnya hanya tinggal nama.

perlu evaluasi dan renegosiasi ulang pelaksanaan AC-FTA jika pemerintah benar-benar melindungi petani. Buruknya infrastruktur pertanian, perubahan iklim, lemahnya SDM, buruknya teknologi pasca panen, dan panjangnya mata rantai pertanian membuat produk pertanian Indonesia tidak akan mampu bersaing dengan produk cina yang sangat kompetitif. Jangankan Indonesia, Amerika saja kalah bersaing dengan produk cina.

Sebenarnya konstitusi Indonesia mengamanatkan untuk melakukan kerjasama ekonomi, tetapi bukan model perdagangan bebas. Yang harus dilakukan adalah kerjasama yang saling menguntungkan antar negara. Bukan persaingan bebas yang akan mematikan satu dengan yang lainnya. Ibarat sebuah pertandingan bola, sangat tidak mungkin Timnas Indonesia Menang melawan Timnas Spanyol. Jelas perjanjian AC-FTA merupakan sesuatu yang sangat gegabah dan konyol.

Mari kita belajar dari Cina, mereka berani membuka pasar dan bersaing di Internasional setelah mereka membenahi infrastruktur dan SDM. Disana beaya produksi untuk sebuah produk sangat murah. Suku bunga kredit juga rendah sehingga memicu sektor riel untuk bergerak. Industri nasional juga berjalan dengan baik.  Sementara di Indonesia masih jauh dari standar untuk melakukan kompetisi dengan produk negara-negara yang sudah kuat.

Jika tidak menginginkan produk pertanian yang lain bernasib sama dengan nasib petani jeruk dan bawang putih, maka pemerintah harus menunda pasar bebas untuk pertanian terlebih dahulu. Baru setelah petani kita kuat dibuka pasar bebas pun tidak akan menjadi masalah besar. Untuk penguatan petani secara massif setidaknya dibutuhkan waktu minimal 10 tahun. Tentu pemerintah harus berani mengambil langkah strategis, jika tidak maka pertanian hanya tinggal masa lalu, anak-anak petani akan dirubah menjadi kuli di negeri sendiri ataupun di negeri orang lain.

Pemberlakuan ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) merupakan salah satu bentuk nyata bagaimana kita menghadapi globalisasi dan liberalisasi perdagangan. Selama lebih dari setahun penerapan ACFTA, perkembangan yang terlihat sekarang justru memperkuat kekhawatiran kita selama ini bahwa kita “keteteran” dan tidak siap menghadapi persaingan ketat dalam perdagangan bebas.Komoditas pertanian Indonesia belum mampu berbuat banyak dalam menghadapi globalisasi. Makin banyaknya komoditas impor yang masuk ke pasar-pasar (termasuk pasar tradisional), menunjukkan bahwa daya saing komoditas pertanian kita cukup mengkhawatirkan.

Membanjirnya produk asal China juga ternyata mengancam sektor pertanian Indonesia. Produk impor asal China sangat berpengaruh terutama terhadap produk holtikultura buah-buahan dalam negeri. Hal ini dapat disebabkan oleh cuaca buruk selain itu Indonesia juga tidak memiliki kawasan khusus yang dijadikan lumbung produksi buah. Akibatnya, produksi buah-buahan lokal terus berfluktuasi sepanjang tahun.

Produk kita memang bersaing ketat dengan produk pertanian asal China. Pada 2007-2010 lalu, perdagangan Indonesia dengan China mengalami defisit US$661 juta untuk sektor holtikultura. Hal ini bermula seiring pemberlakuan kawasan perdagangan bebas China-ASEAN (China-ASEAN Free Trade Area/ CAF-TA). Seperti nasib petani buah-buahan di Tanah Karo, Sumatera Utara,, terpaksa membiarkan jeruk masak di pohon dan tidak dipetik. Sebab, kalaupun dipanen dan dijual ke pedagang mengakibatkan petani mengalami kerugian. Karena jangankan untung, modal saja pun tidak kembali. Ini karena buah-buahan dari China membanjiri Medan dan kota-kota lainnya di Sumatera Utara dengan harga lebih miring dari harga jeruk lokal. Kita harus lebih bijak dalam melihat impor buah dari China. Karena Indonesia belum memasuki skala ketergantungan pada buah-buahan impor dari China. Karena buah yang di impor oleh Indonesia kebanyakan untuk jenis-jenis tertentu yang tidak ada di Indonesia.

Tidak bisa bersaingnya produk Indonesia dengan produk asal China rupanya tidak hanya karena faktor eksternal, tapi juga akibat faktor internal seperti melambungnya harga jual produksi domestik tersebut. Produk Indonesia seperti buah-buahan jika dilihat dari sisi kualitas sebetulnya jauh lebih baik daripada produk China. Namun demikian harga jual di pasar domestik yang melambung akhirnya membuat produk Indonesia kalah bersaing dengan China. Oleh karenanya pemerintah perlu untuk membenahi pasar domestiknya guna menyaingi produk China tersebut.

Terlepas dari kenyataan bahwa jeruk local terutama jeruk Pontianak sesungguhnya memiliki keunggulan 4-5 kali lebih baik dar jeruk China, mahalnya harga jeruk ini disebabkan  masalah logistik nasional yang belum maksimal. Hal ini menimbulkan pernyataan bahwa mendatangkan jeruk dari China biayanya lebih murah daripada mendatangkan jeruk dari Pontianak. Melihat kondisi tersebut, sepertinya pemerintah patut mengadakan penataan pelabuahan, transportasi laut, serta menata kembali sistem logistik yang lebih baik dan efesien.

Hal lain yang dapat kami sarankan untuk pemerintah lakukan adalah sebagai berikut : 1) Perlu bantuan Pemerintah untuk menyediakan sarana dan prasarana penunjang dalam rangka pembukaan lahan baru bagi petani yang berminat dibidang agribisnis jeruk Pontianak dengan skala usaha 2 hektar, 2) Perlu penelitian lebih lanjut tentang studi kelayakan untuk pembangunan pabrik pengolahan hasil jeruk untuk mengantisipasi produksi jeruk yang terus meningkat seiring dengan penambahan luas tanam dimasa yang akan datang. Selain itu, antara pemerintah dan petani serta pasar harus ada saling koordinasi untuk menjaga produk dalam lokal. Ini demi kesejahteraan bersama.

REFERENSI

 

Dewi.2009.Jeruk[terhubungberkala]http://www.blogkku.co.cc/2009/05/jeruk.html [24 Mei 2011]

Departemen Perdagangan. A F T A DAN IMPLEMENTASINYA[terhubung berkala]http://www.depdag.go.id/files/publikasi/djkipi/afta.htm       [24 Mei 2011]

Eti Rafika.2005. Analisis agribisnis jeruk pontianak terhadap pendapat petani: study kasus di kecamatan tebas kabupaten sambas propinsi kalimantan barat/–2005[terhubungberkala]http://elibrary.mb.ipb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=mbipb-12312421421421412-etirafika-546          [24 Mei 2011]

[terhubung berkala] http://infoindonesia.wordpress.com/2011/01/05/jeruk-cina-awas-racun-dan-bahan-kimia-berbahaya/                                 [24 Mei 2011]

Suhendra.2010. Jeruk Pontianak Kok Lebih Mahal dari Jeruk China? [terhubung berkala] http://www.detikfinance.com/read/2010/05/31/153506/1366789/4/jeruk-pontianak-kok-lebih-mahal-dari-jeruk-china                              [24 Mei 2011]

Sukirno.2011.ACFTA Buat Sektor Pertanian Keteteran [terhubung berkala]http://bisnis.vivanews.com/news/read/218480–acfta-buat-sektor-pertanian-keteteran–                                                               [24 Mei 2011]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s